Temu Remaja Nasional Indonesia “Upaya Menurunkan Angka Kehamilan dan Kelahiran Pada Remaja”

WhatsApp Image 2017-02-22 at 9.58.46 AM

Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 21 Maret 2017 gue flight ke Yogyakarta untuk turut berpartisipasi dalam acara Temu Remaja Nasional Indonesia yang di adakan oleh BKKBN bekerjasama dengan Johns Hopkins Center for Communication Programm (JHCCP), Rutgers WPF Indonesia, UNFPA dan UNICEF. Temu Remaja ini berlangsung selama 2 hari yaitu dari tanggal 22-23 Maret 2017. agenda yang dilakukan adalah untuk memenuhi hak remaja untuk mendapatkan informasi, konseling dan pelayanan medis untuk mencegah kehamilan dan kelahiran selain itu untuk merumuskan upaya strategis dalam menurunkan angka kehamilan dan kelahiran di kalangan remaja. klo boleh jujur, awalnya gue juga bingung kenapa tiba2 gue ditunjuk untuk turut serta dalam acara ini bukan hanya sebagai peserta tetapi panita juga.. secara usia gue sudah bukan termasuk dalam kategori remaja. menurut WHO batas usia remaja pada anak2 adalah 10-24 tahun sedangkan di Indonesia sendiri berkisar 10-19 tahun, sedangkan gue? mleehh.

persiapan acara ini dibuat dari pertengahan tahun lalu tetapi gue diminta untuk turut serta dari bulan Oktober/November akhir tahun 2016 sampai pertemuan rapat pada Januari 2017 di Kantor BKKBN. awal turut serta gue ngeblank sama sekali, gak ada informasi lebih terkait rapat ini dari pihak Organisasi/Komunitas yang menunjuk gue untuk mewakilkan mereka, yang gue tau hanya rapat membahas Kesehatan Reproduksi, oh pasti ini macam konseling nihh.. pasti gue dikasih ilmu tentang kespro terus nanti di bagikan ke teman-teman difable di Jakarta dan sekitarnya. tapi ternyata salaah.. tugasnya lebih berat dari yang hanya Jakarta dan sekitarnya menjadi Seluruh Indonesia.
rapat rutin yang berjalan dalam kurun waktu setahun ini adalah rapat untuk menyusun rundown acara, mulai dari mencari hotel, lokasi acara ingin digelar dimana (saat itu Jakarta dan Yogya pilihannya) hingga memikirkan hashtag social media untuk acara tersebut.

sebelumnya gue akan menceritakan lebih dulu peran gue terkait keikutsertaan gue dalam acara ini, gue adalah sebagian dari teman-teman diluarsana  yang peduli dengan Hak-Hak teman2 Disabilitas/Difable dalam hak-hak pendidikan,pekerjaan sampai hak2 informasi kesehatan reproduksi, tetapi untuk masalah Kespro pengetahuan gue tentang hal ini dibawah dari minim.. sebut nol besar tetapi tiba2 harus menyuarakan hak-hak teman-teman difable di seluruh Indonesia. bercanda nih pastiii -.-  but the fact it is!.

singkat cerita dengan waktu yang mepet gue mencoba mengumpulkan data2 kespro di seluruh indonesia, terkait infomasi kespro apa saja yang teman-teman difable dapatkan di daerahnya masing-masing. hasilnya sangat memprihatinkan, bayangkan saja terkait informasi kespro dikalangan remaja non-difable saja masih minim bagaimana dengan teman-teman difable?? gue berkali-kali miris membayangkan betapa hak-hak mereka terkait informasi ini ditiadakan. sedih cuy .

apa sih yang menyebabkan angka kehamilan dan kelahiran di kalangan remaja meningkat? kurangnya informasi terhadap kesehatan reproduksi itu sendiri, gue akan menceritakan informasi yang gue dapat pada Temu Remaja ini, berhubung seluruh remaja dari barat hingga timur Indonesia berkumpul dan menceritakan kondisi lapangan di daerahnya masing-masing. selain dari kurangnya informasi, faktor ekonomi dan budaya juga sangat erat kaitannya.. seperti banyak sekali bukti nyata seorang remaja yang baru lulus SMP dipaksa menikah oleh orang tuanya agar terbebas dari tanggung jawab ekonomi orang tua dan juga “cap” perawan tua, gak laku turut serta menjadi momok menakutkan keluarga. ini adalah bukti daerah, lalu bagaimana di kota yang “cap” bukan menjadi masalah utama? di kota tingkat KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) sangat tinggi. yang paling bikin gue miris adalah saat seorang remaja sudah menjadi pelaku sexually active. ada moment saat rapat dimana Ibu Laurike Moeliono dari JHCPP memberikan informasi/presentasi di depan panitia acara ini bahwa ada seorang remaja berusia 14 tahun yang selalu menyediakan kondom di tasnya. gueeeeehhh sebagai wanita dewasa seumur-umur baru 2x ngeliat kondom, itu juga saat diberikan informasi kespro berbelas2 tahun lalu.. tp ini, kondom siaap siaga bu!. Remaja hanya butuh edukasi kespro, bukan alat kontrasepsi. lalu bagaimana dengan remaja yang sudah menjadi sexually active? bimbing mereka, dampingi mereka dan berikan kegiatan yang mengarah ke hal yang positif. kemudian bagaimana dengan remaja KTD (Kelahiran Tidak Diinginkan)? bimbing dan berikan edukasi menjadi orang tua yang baik agar memiliki kualitas parenting yang baik juga.  Hubungan seksual itu ibadah, tetapi remaja Indonesia harus punya harga diri . biarkanlah hak dirimu menjadi hak dirimu yang sekarang dan hak pasanganmu dimasa mendatang.

selain menyusun strategi dan memberikan informasi, konseling dan layanan kesehatan reproduksi kepada remaja (usia 10-24 tahun) belum menikah agar mereka memiliki kondisi kesehatan reproduksi yang baik, terbebas dari berbagai penyakit yang terkait dengan kesehatan reproduksi, dan memiliki perilaku yang bertangung jawab terkait dengan kesehatan reproduksi termasuk perilaku mengatur usia pernikahan dan usia untuk memiliki anak Temu Remaja ini bertujuan untuk memberikan peningkatan akses remaja ke layanan, atau perubahan perilaku dan keinginan untuk menggunakan alat kontrasepsi di masa depan pada saat nanti mereka menikah. Meskipun telah banyak upaya yang dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan baik pemerintah, LSM maupun LSOM, dan kelompok profesional, akan tetapi dari pemetaan yang dilakukan oleh tim JHCCP maupun UGM ditemukan bahwa keterpaparan dan aksesibilitas remaja terhadap informasi, konseling dan layanan medis yang terkait dengan pencegahan kehamilan dan kelahiran di kalangan remaja pada kurun waktu 2003-2015 masih rendah dan tidak menunjukkan peningkatan dan juga pemetaan kesehatan reproduksi remaja yang dilakukan oleh BKKBN bekerjasama dengan Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP) dan the Bill and Melinda Gates Foundation tahun 2016-2017 memperlihatkan bahwa kondisi kesehatan reproduksi remaja yang ada pada saat ini khususnya terkait dengan aspek kehamilan dan kelahiran belum mencapai tingkat yang ideal. miris sekali yaa .

Oleh sebab itu, Temu Remaja Indonesia ini untuk menyepakati upaya strategis dalam hal rekomendasi dan program strategis untuk meningkatkan keterpaparan dan akses remaja terhadap Informasi, konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi untuk penurunan angka kehamilan dan kelahiran pada remaja usia 10-19 tahun serta pendewasaan usia perkawinan.

soooo here we go, Inilah Suara Remaja Aksi Bersama…

IMG_2872

IMG_2874

(Dialog interaktif dengan Ibu Laurike Moeliono (JHCCP), Robert Blum (Johns Hopkins University), TIM peneliti UGM, dan Auzan (duta GenRe))

IMG_2881

IMG_2882

(Dialog  interaktif dengan Melinda Gates (Bill and Melinda Gates Foundation) , Siti Masdah (Fatayat NU), dan 2 remaja terpilih untuk ikut berdiskusi dengan Melinda gates di hadapan seluruh peserta  yang pandu dengan MC.  yang  kemudian dilanjutkan dengan 10 remaja terpilih berdiskusi dengan Melinda Gates diruangan yang terpisah *roundtable discussion*)

IMG_2931

IMG_2932

(Finalisasi hasil diskusi kelompok sekaligus  pembacaan rumusan yang di bacakan oleh Auzan GenRe dan Fika ARI)

image1

(10 Remaja yang berkesempatan berdialog secara langsung dengan Melinda Gates dalam acara Temu Nasional Remaja Indonesia “Upaya Menurunkan Angka Kehamilan dan Kelahiran Pada Remaja”. disini gue mendampingi seorang remaja dengan disabilitas-pria berblazer biru muda-  bernama Hetiyan Tuah Miko yg jauh2 dtg dari Gayo, Aceh agar dapat berdialog langsung dengan Mrs. Gates. rasa  cape ngadepin macetnya cawang (arah kantor BKKBN) hilang saat suara gue untuk memasukkan Miko kedalam 1o remaja disetujui! so proud of him karena berani bersuara!!)

Semoga dengan adanya Temu Nasional Remaja Indonesia ini seluruh ide-ide dari remaja itu sendiri dapat ter-implentasikan oleh pemerintah dengan baik. bukan hanya mendorong, tetapi mendesak pemerintah agar segera bergerak dan juga semoga  hak-hak teman-teman disabilitas/difable di seluruh Indonesia untuk mendapatkan informasi ini terpenuhi dengan baik. mendapat informasi kesehatan reproduksi adalah hak setiap remaja termasuk remaja dengan disabilitas. bertanggung jawablah atas diri sendiri, rencanakan hidupmu sebelum hidupmu menjadi perencanaan orang lain. inilah suara remaja untuk remaja .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s