Gigi Adanna Sahardaya

untuk menghindari kebingungan chapter
mohon klik kategori Gigi Adanna Sahardaya | cerpen (sebelah kiri, on pc).
kemudian baca dari yang paling bawah atau kunjungi
Wattpad | Gigi Adanna Sahardaya . selamat membaca! :)

CHAPTER 4

92696d4071a7ce3310c8b7ac6ec6ac44

27 April 2016

Malam

aku terduduk di kursi tengah rumahku, melempar tas ke kursi dan menarik nafas dalam2. kerjaan kantor sedang banyak2nya terlebih Pak Richard yang sedang mempersiapkan keberangkataannya ke Cina untuk bertemu dengan para CEO perusahaan dari negara yang bekerja sama dengan perusahaan kami pada hari senin. seharusnya aku lembur untuk mengurusi beberapa berkas yang akan dibawa Pak Richard kesana, tetapi badanku sudah gak kuat, sudah terlalu cape untuk berdiam disana lebih lama dari seharusnya. beginilah nasib seorang sekretaris sebuah perusahaan asing.

kuraih handphone dalam tas untuk mengecek apakah Iko meneleponku, sudah 12 jam sejak tadi pagi ia menelepon untuk mengatakan selamat pagi. aku cek handphoneku dan ada 5 missedcall sejak jam makan siang hingga malam ini, aku tersenyum melihatnya.. “lelaki ini”. nada sambung telpon berbunyi kemudian terdengar suara lelaki yang ku kenal, “Hai! kemana saja?” suaranya terdengar sangat khawatir, “aku telpn sampai 5x gak ada jawaban, tumben sekali”. aku terdiam sejenak mengingat ayah.

“Gi.. are you okay?

“eh ya, I’m okay. maaf banget hari ini aku sibuk sekali. Pak Richard akan pergi ke Cina senin depan, kamu taulah gimana keteterannya..”

“aah sibuk sampai pegang hp saja tidak bisa” suaranya terdengar sangat jengkel

“bukan gtuuu.. ayolah jangan  bete ah. kamu lucu tau gak klo lagi bete nanti aku malah ketawa”

“siapa yang bete? aku gak bete”

“yakin?” aku meledeknya

“aku gak bete, cuma…. kesal”

“hahahha apa yang harus dikesali?”

“aku kesal karena aku mengerti kamu sibuk tapi disisi lain aku gak mau ngerti”

aku terdiam dalam senyum menanggapi keluhannya, Iko adalah sosok pria yang membayangkan dia bersikap manja saja sudah membuatku tersenyum apalagi disaat seperti ini, bukan saja wajahku. hatikupun ikut tersenyum.

“cape ya?” Iko bertanya kembali

“sudah pulang, mba?” Ibu datang menghampiriku

“iya..” aku menjawab keduanya disaat bersamaan

“mau ibu masakan air hangat, mba?” aku hanya mengagukan kepala menjawab pertanyaan ibu

“dari tadi pulangnya,mba?” ibu bertanya kembali disusul suara Iko bertanya di ujung telepon “kamu cape sama aku?”

“iya” aku menjawab keduanya disaat bersamaan

“apa?? udah aku duga kam..” suara Iko terhendak menyadarkanku dari perbedaan pertanyaan tadi

“eh kamu nanya apaan ya tadi? kamu tuh hobi banget nanya2 yang gak penting sih ih. udah ah aku mau mandi dulu, nanti aku tlpn lagi”

“hahahah ok, kamu gak mau aku temani mandi juga?”

“otaknya jangan cabul plisss”

“hahahhaha ok, nanti facetime ya. aku tunggu”

“ok..” aku menutup telpon dengan senyum

——————————————————–

dengan lilitan handuk di kepala aku buka macbook dan menelepon Iko kembali

dengan lilitan handuk di kepala aku buka macbook dan menelepon Iko kembali.

‘hai again” Iko menyapa dengan senyum

“hai..”

“seger ya habis mandi”

“segerrrr, rasanya cape ku hilang seketika pas kena air” jawabku sambil berdiri menjauhi macbook untuk mengambil beberapa berkas kerjaan.

“ah itu seger karena aku laaah bukan karena airrrr”

“dih pede kamu! hahahah”

“lho!? memangnya aku juga gak menyegarkan??”

aku terdiam kemudian manatapnya, “kamu ini semacam sirup atau apa sampe bisa menyegarkan gtu?”

“hahahaha apalah pokoknya aku pria yang bisa menyegarkan hari2 mu disaat lelah melanda”

“dih! Mr. Gombal yang gombalannya rendahan banget, kamu ini pede sekali yaaa hahahah” aku beranjak kembali dari kasur menuju meja tempat berkas2 yang ku bawa dari kantor.

“hahahha “Mr. Gombal yang gombalannya rendahan banget” kamu gak punya sebutan yang lebih bagus? setidaknya aku udah berusaha lho”

“gak adaaaaa, udah jangan mokso. gak pantes!” aku tertawa menjawabnya

“dasar tega” celetuknya, “masih mau ngurus kerjaan jam segini?”

“aku cuma mau cek beberapa berkas sih, aku agak kurang yakin sama kerjaanku di kantor tadi” aku mengecek lembar demi lembar kerjaanku, “heran,rasanya semakin kesini pekerjaanku makin berat”

“belum berat, sampai deal Richard di Cina sukses baru berat kerjaanmu”

aku menghela nafas panjang..

“sudah di tutup dulu, mending kamu istirahat dan bahas janji kita hari minggu besok, gimana?”

“sounds good” aku menjawab Iko dengan penuh yakin, kerjaanku bisa aku selesaikan besok. sudah waktunya aku menghabiskan malam menatap Iko setelah berjam2 mengabaikan dia. mungkin benar ia menyegarkan, hanya saja kata yang tepat untuknya tidak seasal2 itu. ia adalah rasa tenangku, hanya tenangnya yang mampu memelukku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s