Get To Know More – Mbah Kakung

kkkk
Senin, 8 Februari 2016.
hari itu cukup bersejarah buat gue karena untuk pertama kalinya Mbah Kakung bercerita tentang masa mudanya. ya! se-25-tahun ini gue hanya mendengar kisah Mbah Kakung hanya dari sepupu yang diceritakan mamanya, at least itu tante dan bude gue. ayah sendiri hanya cerita alakadarnya saat setiap kali ada pembahasan yang membawa era Bung Karno di tv. jangankan Mbah yaa.. cerita masa muda Ayah sendiri aja jarang -_-.

Mbah Kakung sendiri adalah sosok yang keras terkenal galak banget. pokoknya pake banget, dan itu bikin cucu-cucunya merasa enggan klo bicara lama-lama sama Mbah Kakung, karena sudah pasti akan merembet kemana2 dari bertanya soal pendidikan kemudian mengoreksi pendidikan kita mulai dari apa yang kita pilih hingga tentang kegiatan apa yang sedang kita lakukan dan apa yang di dapat dari kegiatan tersebut. mau bukti? contohnya, saat ade sepupu memilih jurusan komunikasi saat lulus SMA nanti Mbah mengkritik pilihannya tersebut “kenapa pilih komunikasi? itu jurusan buangan kamu tau” hahaha gak ada yang salah dengan jurusan tersebut, pada saat ini memilih jurusan selalu di ikuti dengan passion beda dengan jaman dulu (mungkin) selalu dilihat prospek kerja untuk kedepannya. sebenarnya niatnya baik, Mbah Kakung sendiri hanya menyayangkan kenapa harus jurusan tersebut disaat Mbah tau kualitas ade sepupu bisa lebih dari itu.
dari sebagian kakak2 dan ade2 sepupu yang terkadang merasa takut untuk ngobrol dengan Mbah Kakung mungkin cuma gue yang ngerasa enjoy ngobrol dengan beliau, karena gue merasa banyak kesamaan antara gue dan beliau. beliau suka banget baca buku, so do I. semua buku beliau baca, dari buku Perancis, Belanda dll. selain itu mungkin karena gue sosok yang haus akan cerita2 pengalaman (saksi hidup) di jaman saat seseorang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. agak njelimet ya sis bahasa gue, but the fact gue memang menaruh interest lebih di hal-hal yang berbau army/kisah perang. (dalam Film)

Tahun ini Mbah Kakung berumur 93 tahun, dan Alhamdulilah masih cukup sehat untuk “memarahi” anak-anaknya/cucu-cucunya :p. just kidding.
tanggal 8 kemarin seperti the best day banget karena biasanya saat ada kesempatan ngobrol berdua dengan Mbah Kakung beliau selalu mendominasi pertanyaan, “gimana kabar kamu? gimana kegiatan kamu?, gimana gimana gimana?” dan gue hanya punya 2 pertanyaan dan 1 statement setiap kali ketemu Mbah Kakung,
“Mbah  apa kabar? Sehat?” dan “duh ini masih ganteeng  Mbahh hahaa”. dan Mbah selalu tersipu setiap kali gue beri compliment :D.

semua bermula dari beliau yang menanyakan tentang buku apa yang sedang gue baca akhir-akhir ini kemudian merembet ke cerita jaman Mbah Kakung muda.
Buku Pulang dari Leila S. Chudori adalah penyebabnya, sebuah buku sastra terbaik di tahun 2013 .  mengangkat fakta politik di Indonesia pada tahun 1968 dan tahun 1998 yang dikemas secara fiksi tetapi dengan fakta politik pada tahun tersebut. sungguh buku yang menarik!! mengangkat suara kebebasan dan cinta terhadap tanah air. mungkin nanti gue akan review buku tersebut disini, karena buku tersebut wajib banget buat di kulik.
Mbah agak terkaget2 mendengar bacaan gue yang agak berat (padahal ngga berat sama sekali), dia menanyakan buku jenis apa yang sering gue baca (sastra) kemudian mengacungi jempol dengan genre bacaan gue dan sedetik kemudian “memarahi” gue karena genre tersebut.

“jangan kebanyakan baca sastra, nanti hidupmu mengkhayal mulu! sekali2 lah kamu baca buku Ilmiah seperti Mbahmu ini. katanya kamu mau ambil psikologi dalam beberapa tahun kedepan, nah baca itu buku2 ilmiah tentang psikologi. seperti Mbah membaca buku2 ilmiah dari perancis dan belanda. ilmu Mbah ini adalah ilmu otodidak, Mbah rajin membaca buku dari luar. sebagai seorang asisten Menteri mbah dituntut untuk berwawasan luas, kamu tau mbah tidak kuliah tetapi tulisan mbah dipakai untuk pidato beberapa Menteri. saat umur Mbah 25-26 tahun mbah satu2nya sipil yang berpidato dengan Jendral Ahmad Yani, saat itu pangkatnya masih Mayor. mbah masih ingat betul saat selesai berpidato para ABRI menjabat tangan mbah tanpa henti.
Mbah kenal dengan Bung Karno dan selalu berdiri dibelakang beliau saat rapat dengan para menteri.

Mbah dengar kamu sedang ingin mencoba ambil kedokteran?
gak perlulah kamu mencoba menjadi seorang Dokter karena biaya menjadi Dokter sungguh tinggi, psikologi bagus tetapi juga cukup melelahkan. apapun yang akan kamu pilih kelak jalani dengan sungguh2 tetapi jangan ngoyo
(ngotot), dan satu lagi mbah baca artikel kamu di Kompas. Mbah gak nyangka kamu bisa masuk koran”

kurang lebih seperti itu percakapan gue dengan mbah, memang tidak full tapi ini cukup membuat rasa penasaran gue terobati. menjadi seseorang yang aktif dalam dunia politik di eranya cukup membuat Mbah dan keluarga (ayah, bude,pakde, tante) terkena “dampak” orde baru yang kalau gue ceritakan akan makan waktu yang Allahuakbar gak kelar2. pernah suatu waktu Ayah cerita kalau Mbah Kakung pernah di minta untuk menjadi penasihat pembangunan Universitas Bung Karno tetapi Mbah Kakung menolak karena alasan trauma.
satu hal yang gak akan gue pernah lupa saat Tante dan Ayah gue cerita kalau gue memiliki darah seorang penulis dan darah seorang ningrat (dari Mbah Putri. but that’s not the point), memiliki darah seorang penulis terdengar cukup keren untuk gue haha. well, kali ini gue benar2 merasa kalau Mbah Kakung itu adalah Ayah dan Ayah itu adalah Gue. terlalu banyak kesamaan antara kami.

So proud of these men.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s