Tuesday With Morrie

Tuesday With Morrie

“I love that book!!”  yaaaa cuma itu doang yang bisa gue utarain klo ada yang ngomong “Tuesday With Morrie” . gak kok gak berlebihan gak juga kelebayan hahaa .
ini buku ke 2 yang gue baca setelah “The Five People You Meet in Heaven”  dari MItch Albom sekitar tahun 2010/2011-an dan baru baca bukunya lagi tahun 2013 -_-” .
bukan karna “males” baca lagi tapi karna udah susaaaah buku2nya dicari.. ya maklumlah buku pertamanya “Tuesday With Morrie” terbit tahun 1997 waktu umur gue 6  tahun, yang pada saat itu gue baru semi2 bisa baca gara2 Sailormoon . lol

gue akan cerita sedikit gimana gue tau Mitch Albom . jadi gue gak sengaja baca recommended book this month di Gogirl! (majalah), waktu itu buku yang di recommended-tin “The Five People You Meet in Heaven” (Meniti Bianglala) dan gue lansung berniat buat cari bukunya . tapi ya namanya juga buku lama (2003) jadi suseh nyarinya.. ke Gramed, Gunung Agung gak ada. bukan sepenuhnya gak ada sih hanya lagi kosong karna belum cetak ulang, sampe akhirnya ayah gue pergi ke Kwintang (kawasan buku di Jakarta Pusat) sama ade, dan pulang2 bawa “The Five People You Meet in Heaven” terbungkus plastik dan baru :).
“All endings are beginnings, We just don’t know it at the time” – The Five People You Meet in Heaven

Mitch Albom, mungkin dia satu2nya penulis yang gue suka sampe “begini”nya, bukan karna gue gak tau penulis2 hebat lainnya cuma dari sekian buku yang gue baca gaya nulis Mitch lebih berkesan.. ringkas,puitis,ringan,indah, “mencerahkan” dan mudah dipahami dengan sederhana .
banyaknya detil deskripsi dalam tulisan dan ceritanya yang terkesan terpotong-potong. mungkin ini akan membuat beberapa orang gak suka karna “aneh”, gantung, tapi justru ini yang buat gue menggilai cara menulisnya . kalian akan ter”WOW2″ bacanya dan makin penasaran karna dari tiap tulisan yg terpotong  tanpa disadari saling menyatu sama lain .

“Tuesday With Morrie”  Selasa Bersama Morrie, sebuah buku pelajaran tentang makna hidup . buku ini bukan buku yang bercerita macam Nicholas Sparks atau Austen yang mengharubiru . Bukan juga cerita yang akhirnya susah ditebak (cukup bukunya saja yang susah dicari, isinya jangan :p) macam Agatha Christy, atau rebel macam JD Salinger. apalagi buku cerita sekuel nan gila tebel macam milik JK .
buku ini buat gue nangis gak karuan, ada beberapa page yang ngebuat gue merasa ter-connected dengan tulisan yang ada di dalam . salah satunya saat Mitch berkendara dengan mobil sewaannya dengan 1 cup kopi ditangan dan bahu yang menjepit handphone (Mitch org yang sibuk,dude.. asli :|) ke jalan tempat Morrie tinggal di West Newton, kawasan pinggiran yang tenang kota Boston .

 “Sekilas aku melihat sebatang pohon mapel Jepang besar, dan dekat jalan masuk rumah itu ada tiga orang sedang duduk: seorang pria muda, seorang wanita setengah baya, keduanya menemani sebuah sosok renta bertubuh kecil dalam kursi roda. itu Morrie.. . telah enam belas tahun aku tak melihatnya , rambutnya semakin tipis, hampir putih, dan wajahnnya tampak kurus.” Sahabatku” bisiknya, “Akhirnya kau datang juga” “

Morrie Schwartz, pada usia tuanya dia divonis menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ASL), sebuah penyakit ganas tak kenal ampun yang menyerang sistem saraf. ketika dia berjalan keluar dari rumah sakit bersama istrinya, Charlotte , dia melihat sekitarnya dan berpikir kenapa dunia tak ikut berhenti? tak tahukah mereka guncangan yang baru saja kualami?, dia beripikir apa yang harus diperbuatnya dan pada akhirnya dia menciptakan jawabannya dan menuntaskannya sebelum kematian menjemputnya. Ia ingin membuktikan bahwa kata “sekarat” tidak sinonim dengan “tidak berguna”. Morrie mengajarkan Mitch tentang Dunia, tentang Mengasihani Diri Sendiri, Penyesalan diri, Kematian, Keluarga, Emosi, Takut Menjadi Tua, Uang, Cinta yang tak padam, Perkawinan, Budaya, Maaf dan Hari yang paling baik . Mitch terbang dari Detroit ke Massachusetts setiap selasa untuk menjenguk profesornya, mereka berdiskusi, walau terkadang Mitch harus menunggu beberapa lama karena Morrie sedang dalam kondisi yang semakin memburuk .

gue secara pribadi ngerasa sedang berdiskusi langsung dengan sang profesor saat membacanya karena penyampaian dalam tulisan yang begitu sederhana dan mudah dimengerti . Ini adalah thesis terakhir sang profesor .

“Setelah kunjungan-kunjungan rutinku ke rumah Morrie, aku mulai banyak membaca seputar kematian, seputar pandangan berbagai budaya terhadap tahapan akhir hidup ini . Ada sebuah suku di Lingkaran Kutub Amerika Utara, misalnya yang percaya bahwa semua mahluk hidup dimuka bumi memiliki jiwa yang wujudnya merupakan bentuk miniatur dari tubuh yang menyimpannya — maka seorang rusa mempunyai seekor rusa mini didalam tubuhnya, sedangkan seorang manusia mempunyai sesosok manusia mini di dalam raganya. ketika mahluk besar mati, mahluk miniatur tetap hidup. sosok kecil itu dapat pindah ke mahluk yang baru lahir dekat situ, atau pergi ke tempat peristirahatan sementara di ruang angkasa, di dalam  perut seorang ratu peri, tempatnya menunggu sampai bulan mengirimnya kembali ke bumi .
Konon, adakalanya bulan begitu sibuk mengurusi jiwa-jiwa yang baru datang dari bumi sehingga menghilang dari langit. itu sebabnya ada malam-malam yang berlalu tanpa kehadiran sang bulan . Bagaimanapun, pada akhirnya bulan selalu datang kembali, seperti halnya manusia.  Itulah yang mereka percayai..”

P 121, Tuesday With Morrie.

Thanks Love, for the books

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s